Belajar dari Kasus Dokter Gadungan Susanto: Perlu Perbaikan Rekrutmen SDM di Bidang Kesehatan
Belajar dari Kasus Dokter Gadungan Susanto: Perlu Perbaikan Rekrutmen SDM di Bidang Kesehatan
Dokter Gadungan, Susanto. (Foto: istimewa)

Jakarta, MERDEKANEWS -- Dunia kedokteran di Indonesia sedang dihebohkan dengan aksi seorang dokter gadungan yang bernama Susanto di Surabaya, Jawa Timur. 

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Azhar Jaya angkat bicara soal aksi Susanto. Menurutnya, hal ini perlu menjadi catatan dan perbaikan bagi seluruh lapisan yang bergelut di bidang kesehatan.

"Dokter gadungan ini menjadi keprihatinan kita bersama. Dan ini akan menjadi catatan dan perbaikan kita semua, mulai dari jajaran Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, dinas kesehatan, sampai dengan rumah sakit itu sendiri," jelas Azhar.

Berkaca dari kasus tersebut, Azhar mengatakan perlu adanya verifikasi ulang yang dilakukan para petinggi di rumah sakit. Ini berguna untuk memastikan pengalaman dan kompetensi dokter atau tenaga kesehatan sudah memenuhi kualifikasi untuk merawat pasien.

Azhar menjelaskan untuk dapat berpraktik, dokter harus melewati beberapa tahapan. Ini termasuk pemeriksaan Surat Izin Praktik (SIP) dan Surat Tanda Registrasi (STR).

"Mulai dari SIP (surat izin praktik) yang dilakukan di dinas kesehatan, yang mengeluarkan SIP adalah dinkes. Kemudian ijazahnya segala macam, itu seharusnya konsil yang berperan di sini karena STR-nya (surat tanda registrasi) dan sebagainya di situ," tutur dia.

"Kemudian, pas dia praktek di RS, sebenarnya ada kredensial. Direktur rumah sakitnya itu harus meneliti lagi. Komite medisnya juga harus melakukan verifikasi lagi kepada dokter ini, sehingga semuanya bisa memastikan 'status legalnya' seorang dokter," sambungnya.

Azhar menegaskan oknum seperti Susanto ini mungkin tidak hanya terjadi di tingkat dokter saja. Ini bisa saja terjadi di jajaran kesehatan lainnya, seperti perawat, bidan, hingga apoteker.

Maka dari itu, Azhar meminta agar semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan ke depannya bisa melakukan pengecekkan lebih teliti lagi. Hal ini demi mewujudkan keselamatan pasien.

"Dan sekali lagi, namanya oknum itu ada di semua jajaran di bidang kesehatan. Mungkin nggak hanya dokter, mungkin ada tenaga kesehatan yang lain mungkin saja terjadi," tegas Azhar.

"Saya mohon semua rumah sakit, semua fasilitas kesehatan melakukan pengecekkan. Sekarang semua serba gampang, serba online. STR bisa dicek online, ijazah juga bisa online. Ini kembali agar keselamatan pasien bisa terwujud juga karena tenaga kesehatannya memiliki kompetensi yang diakui," tuturnya.

Kedok Susanto sebagai Dokter Gadungan Terbongkar
Susanto, pria lulusan SMA itu juga diketahui telah mengelabui sejumlah klinik dan RS sejak 2006, bahkan pernah menjadi dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi atau Obgyn.

Dalam aksinya, Susanto menggunakan data pribadi orang lain. Kedoknya sebagai dokter gadungan terbongkar tatkala PT Pelindo Husada Citra (PHC) hendak melakukan perpanjangan kontrak kerja pada April 2023.

Saat itu, pihak manajemen PHC menemukan ketidaksesuaian antara hasil foto dengan Sertifikat Tanda Registrasi (STR) yang dikirimkan Susanto.

Setelah diperiksa, data yang digunakan Susanto sebenarnya adalah milik dr Anggi Yurikno, seorang dokter di Rumah Sakit Umum Karya Pangalengan Bhakti Sehat, Bandung, Jawa Barat.

Susanto menggunakan data-data dan ijazah milik dr Anggi Yurikno untuk bekerja di klinik milik PT PHC. Dalam melancarkan aksi memalsukan data, Susanto hanya men-scan ulang data dan foto asli diganti dengan fotonya.

Susanto yang menyamar jadi dokter dan lolos dalam rekrutmen daring saat pandemi 2020, tepatnya pada April 2020. Susanto dipekerjakan sebagai tenaga kontrak di RS PHC.

Dia bertugas di klinik keselamatan dan kesehatan kerja PT Pertamina EP IV Cepu Jawa Tengah. Dengan gaji Rp7,5 juta per bulan, Susanto bertugas memastikan setiap pekerja dalam kondisi sehat sebelum bekerja setiap hari.

Corporate Secretary PT Pelindo Husada Citra, Imron Soewono, menyebut jika pelaku merupakan ternyata seorang residivis dan pemerintah daerah juga disebut pernah menjadi korbannya.

“Pada saat kami pertama kali menemukan kejanggalan, kami itu coba melakukan men-trace latar belakang dari yang bersangkutan menggunakan nama Susanto ini," kata Soewono dikutip dari Antara.

"Di situ baru kami menemukan ternyata yang bersangkutan sudah pernah melakukan kejahatan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, terakhir 2011. Dia pernah menjadi kepala rumah sakit, kepala UPTD, dan lain sebagainya.”

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Kabupaten Bandung, Aziz Asoparie, mengungkapkan bahwa terungkapnya kasus ini yang diawali dari laporan salah satu anggotanya.

"Kami menerima laporan dari anggota kami. Ia melaporkan bahwa datanya dipakai oleh orang yang mengaku sebagai dokter. Setelah mempelajari itu, kami menindaklanjuti dengan membentuk tim pencarian," kata Asoparie dalam sebuah konferensi pers pada Kamis, 14 September 2023.

Berkas-berkas lamaran yang diserahkan Susanto pada saat rekrutmen adalah milik dokter bernama Anggi Yurikno yang bekerja di salah satu rumah sakit di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kemudian, masuk laporan lain bahwa data AY digunakan pelaku untuk melamar pekerjaan di klinik salah satu tambang emas.

Hal ini terungkap dari salah satu rekan Anggi yang menanyakan tentang proses lamaran itu. "Dari sini pertama kali kita tahu bahwa ini memang ada masalah," lanjutnya.

Atas temuan awal itu, pihaknya kemudian menghubungi IDI Kabupaten Blora untuk mengonfirmasi identitas pelaku, tetapi hasilnya juga nihil.

Pada 30 Mei 2023, Anggi dipanggil ke Surabaya untuk diminta menyampaikan keterangan sebagai saksi. Selain pendampingan, IDI juga menunjuk kuasa hukum karena kasus ini telah masuk tataran pidana.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menjelaskan bahwa pelaku pernah mengaku sebagai dokter di Grobogan, Jawa Tengah, dari 2006-2008.

"Sempat kerja di Palang Merah Indonesia (PMI), serta beberapa rumah sakit dan kemudian pindah," kata Wakil Sekretaris Jenderal PB IDI, Telogo Wismo, dalam konferensi pers daring di Jakarta, pada Kamis 14, Sepetember 2023.

Telogo mengungkapkan pihaknya mendapatkan panggilan telepon dari Kalimantan bahwa Susanto telah menjadi dokter spesialis kandungan di sana.

Panggilan itu berawal dari kecurigaan perawat yang mendampingi Susanto saat akan melakukan tindak operasi caesar.

"Perawat ragu kemudian menghubungi direktur rumah sakit lalu melaporkannya ke pihak berwajib. Sempat dihukum, tapi kembali lagi dengan kasus yang sama," ujarnya.

(Jyg)
Bambang Susantono dan Erick Thohir Kenalkan Proyek IKN ke Konglomerat Properti Pemilik Burj Khalifa Dubai 
Bambang Susantono dan Erick Thohir Kenalkan Proyek IKN ke Konglomerat Properti Pemilik Burj Khalifa Dubai 
Kemenkes: 108 Petugas Pemilu Meninggal per 22 Februari, Ini Faktor Penyebab Kematian Tertingginya
Kemenkes: 108 Petugas Pemilu Meninggal per 22 Februari, Ini Faktor Penyebab Kematian Tertingginya
Melihat Transformasi Budaya Kerja Kemenkes, Menteri Anas: Jadi Percontohan di IKN
Melihat Transformasi Budaya Kerja Kemenkes, Menteri Anas: Jadi Percontohan di IKN
Mendagri Minta Pemda Berikan Bantuan bagi Petugas Penyelenggara Pemilu yang Wafat
Mendagri Minta Pemda Berikan Bantuan bagi Petugas Penyelenggara Pemilu yang Wafat
Ibu Kota Pindah ke IKN, Jakarta Akan Jadi Pusat Bisnis dan Finansial
Ibu Kota Pindah ke IKN, Jakarta Akan Jadi Pusat Bisnis dan Finansial