Diduga Ada di Thailand, Begini Sepak Terjang Bisnis Narkoba Escobar Indonesia, Fredy Pratama
Diduga Ada di Thailand, Begini Sepak Terjang Bisnis Narkoba Escobar Indonesia, Fredy Pratama
Bareskrim Polri membentuk satuan tugas khusus untuk memburu jaringan Fredy Pratama dengan sandi operasi "Escobar Indonesia". (Foto: istimewa)

Jakarta, MERDEKANEWS -- Bareskrim Polri membentuk satuan tugas khusus untuk memburu jaringan Fredy Pratama dengan sandi operasi "Escobar Indonesia". Satgassus ini bergerak sejak Mei 2023.

Dalam operasi tersebut, tim satgassus menangkap sebanyak 39 tersangka dari jaringan Fredy Pratama. Ketiga puluh sembilan tersangka merupakan lapisan atas dari jaringan Fredy Pratama memiliki peran seperti pasukan wilayah barat, wilayah timur untuk penyebaran sabu-sabu dan ekstasi, kemudian pembuatan dokumen palsu seperti KTP dan rekening, serta sebagai penjual, penampung keuangan, dan pengendalian keuangan.

Dalam membongkar jaringan Fredy Pratama ini, Bareskrim menyita barang bukti narkoba serta aset tersangka Fredy berupa barang bukti sabu-sabu seberat 10,2 ton, ekstasi sebanyak 116.346 butir, uang tunai miliaran rupiah, serta bangunan dan tanah. Bila dikonversi, nominalnya mencapai Rp10,5 triliun mulai 2020 hingga 2023.

Tim masih bergerak memburu Fredy Pratama dan dua kaki tangannya berinisial FA dan PN yang diketahui sebagai pasangan suami istri. Polisi, Jumat (15/09) menggeledah rumah milik Frans Antony (FA) dan Petra Niasi (PN) di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang.

"Penggeledahan atas nama tersangka SA di rumah FA/FW/PN daerah BSD," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Mukti Juharsa.

Mukti membeberkan hubungan SA dengan pasutri FA dan PN. SA merupakan kurir yang membawa uang tunai ke Indonesia. Kini, Bareskrim Polri masih berupaya menangkap FA dan PN. Keduanya diduga berada di luar negeri.

"Ini adalah sebagai orang-orang yang mengurus keuangannya, yang perempuan sama laki-laki. Suami dan istri," ungkap Mukti.

Ada sejumlah barang bukti disita dalam penggeledahan itu. Di antaranya uang pecahan Rp100 ribu senilai total Rp400 juta. Lalu, uang pecahan Rp50 ribu senilai Rp2,5 juta dan uang pecahan 100 dolar AS senilai 44 ribu dolar AS. Uang tersebut ditemukan tersimpan di dalam sebuah brankas.

Fredy beroperasi sejak 2009. Dia disebut memiliki jaringan narkoba yang rapi, terstruktur dan terorganisir. Bareskrim menurut Mukti, telah menangkap 884 anggota jaringan Fredy sejak 2020 hingga saat ini. Sejak Mei lalu, Bareskrim pun telah membuat operasi khusus dengan nama Escobar Indonesia.

Dalam periode Mei hingga saat ini, bareskrim telah menangkap 39 kaki tangan Fredy. Sejak 2020-2023, Polti berhasil menyita 10,2 ton sabu milik jaringan ini. Mukti menyatakan bahwa barang bukti itu menjadikan Fredy Pratama sebagai salah satu gembong narkoba terbesar di Indonesia. Bareskrim pun telah menetapkan Fredy sebagai buronan sejak 2014.

Mukti pun menyatakan pihaknya menduga Fredy mengendalikan operasi jaringannya dari luar negeri. Di Indonesia, menurut dia, Fredy memiliki dua orang kepercayaan. Keduanya diberi jatah untuk mengendalikan jaringan narkoba di dua wilayah berbeda, yaitu Barat dan Timur. "Kalimantan-Sulawesi Mr. W dengan keuangan sendiri dan narkoba sendiri. Di bagian barat itu Sumatra-Jawa itu adalah Mr. K," kata Mukti, Kamis (14/09).

Mereka memiliki tugas yang beragam, mulai dari mendistribusikan narkoba, mengumpulkan uang hasil penjualan narkoba, hingga membuat berbagai dokumen palsu.

Mukti menyatakan jaringan ini mendapatkan narkoba dari luar negeri dan memasukkannya ke Indonesia dalam kemasan teh. Dalam satu bulan, menurut Mukti, jaringan ini bisa memasukkan 100-500 kilogram narkoba jenis sabu dan ekstasi ke Indonesia.

Selain menjual narkoba, Mukti menyatakan jaringan Fredy Pratama juga melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Bareskrim Polri pun telah menyita uang tunai sebesar Rp 65 miliar.

Selain itu, Bareskrim juga telah memblokir 406 rekening milik jaringan ini. Total dana yang tersimpan dalam rekening itu mencapai Rp 28,7 miliar. Bareskrim juga telah menyita 13 unit kendaraan dan 4 bangunan milik jaringan ini. Saat ini, Bareskrim pun tengah memburu FA dan PN yang disebut sebagai pengelola keuangan jaringan ini.

Menurut Mukti, awalnya Fredy Pratama mengendalikan operasi jaringannya dari Taiwan. Namun, Direktur Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Komisaris Besar Jayadi menyatakan mereka menduga Fredy saat ini berada di Thailand.

Untuk menelusuri keberadaan Fredy dan anak buahnya yang tersisa, Polri pun telah bekerja sama dengan Kepolisian Thailand dan Kepolisian Malaysia. Selain itu, Polri juga bekerja sama dengan Interpol.
“Prioritas pertama Thailand, berikutnya negara-negara tetangga. Dugaan sementara di sekitar Thailand. Tetapi juga kita tidak fokus wilayah itu, negara lain juga akan terus komunikasi,” kata Jayadi, Kamis (14/09).

Mukti pun menyatakan mereka menduga Fredy telah melakukan operasi plastik untuk menghindar dari buruan aparat kepolisian. Dia juga menduga Fredy memiliki banyak dokumen identitas palsu.

Fredy juga diketahui memiliki nama samaran Miming, The Secret, Cassanova, Air Bag, dan Mojopahit. "Ya ada kemungkinan dia mengubah wajahnya. Ya mau operasi plastik, kami tidak tahu, dia mengubah identitasnya," kata Mukti.

(Jyg)
Miliki Kandungan Narkotik, BNN Imbau Jangan Gunakan Kratom Selama Masa Riset
Miliki Kandungan Narkotik, BNN Imbau Jangan Gunakan Kratom Selama Masa Riset
Polri Harus Ungkap Kasus Vina Secara Terang Benderang, Jangan Ada yang Ditutup-tutupi!
Polri Harus Ungkap Kasus Vina Secara Terang Benderang, Jangan Ada yang Ditutup-tutupi!
Buru Tiga DPO, Bareskrim Polri Turun Tangan dalam Kasus Vina
Buru Tiga DPO, Bareskrim Polri Turun Tangan dalam Kasus Vina
Bareskrim Tangkap 60 Tersangka Narkoba Jaringan Fredy Pratama
Bareskrim Tangkap 60 Tersangka Narkoba Jaringan Fredy Pratama
Terancam 12 Tahun Bui, Aktor Rio Reifan Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Penyalahgunaan Narkoba
Terancam 12 Tahun Bui, Aktor Rio Reifan Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Penyalahgunaan Narkoba