Oleh: Darmawan Prasodjo
Pakde Miyono: Kepulangan Dan Jejak Yang Tertinggal
Pakde Miyono: Kepulangan Dan Jejak Yang Tertinggal
Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PT PLN (Persero) dan Penulis Buku “Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia”

Kabar duka datang dari Surakarta. H. Miyono Suryosardjono atau lebih akrab dipanggil Pakde Miyono –kakak kandung Ibunda Pak Jokowi-- berpulang di usianya yang ke-82.

Berpulangnya Pakde Miyono sudah pasti membuat keluarga sangat berduka. Tapi tidak hanya keluarga Pakde Miyono yang berduka. Pak Jokowi, sang keponakan, juga sangat bersedih. Kesedihan yang dialami Pak Jokowi tentunya sangat dalam. Belum lama rasanya kehilangan Ibunda tercintanya –Bu Noto— kini ia harus kehilangan pakde yang menempati ruang batin tak kalah istimewa.

Saya menghadiri pemakaman Pakde Miyono pagi ini, Senin 28 Februari 2022 di pemakaman keluarga Mundu, Karanganyar, asal-usul pohon keluarga ini berakar. Sebuah pemakaman yang sederhana. Namun kesederhanaan itu tidak menutupi kebesaran seorang manusia dan peran penting yang dijalankan beliau semasa hidupnya. 

Sebagai penulis buku biografi politik “Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia” (Gramedia Pustaka Utama, 2019), saya mencatat dan merekam peran sentral Pakde Miyono selain kedua orang tuanya, yaitu Pak Notomihardjo dan Bu Sudjiatmi dalam membentuk sosok pemimpin seperti Pak Jokowi. Jika ibundanya adalah tempat ia melepas lelah dan meminta petuah, pakdenya adalah tempat ia meminta saran-nasihat, serta petunjuk mengambil keputusan-keputusan –bisnis dan kemudian politik.

Bertemu dengan banyak orang sebagai sumber riset dan wawancara ketika saya menulis buku tersebut, saya merasakan bahwa sebagian warna hidup, karakter, sikap hidup seorang Jokowi ikut dibentuk dan dididik oleh sosok pakdenya ini.

Ketika rumah Pak Noto di pinggiran sungai Kali Anyar harus digusur, Pakde Miyonolah yang memberikan tempat bernaung dan membantu adiknya, yang saat itu anak-anaknya –Jokowi dan adik-adik perempuannya-- masih kecil.

Ketika Pak Noto sudah berpindah rumah kontrakan dan memulai usaha penjualan bambu dan kayu, Pakde Miyono jugalah yang membantu keluarga ini untuk punya tiang penyangga ekonomi yang lebih kokoh. Sikap welas asih Pakde Miyono, terutama kepada keluarga Pak Noto, sangat membekas di dalam hati keponakannya tersebut.

Pakde Miyono sendiri, kala adiknya masih harus menegakkan periuk dapur keluarga dengan susah payah, sudah menancapkan diri sebagai sosok pengusaha kayu dan mebel yang sangat sukses di kota Surakarta. Bisnisnya perkayuan/mebelnya sangatlah besar untuk ukuran kota itu. Kenalan usahanya juga tak terkira banyaknya, dan jaringannya juga merambah ke mana-mana. Hasil kayu olahan Pakde Miyono juga banyak yang diekspor, memperlihatkan bisnis kayu di tangan Pakde Miyono adalah bisnis yang menjanjikan di mata Pak Jokowi.

Hal itu juga merupakan salah satu sebab yang mempengaruhi Jokowi Muda untuk mengambil studi Kehutanan di Universitas Gadjah Mada. Keberhasilan bisnis Pakde Miyono, adalah kaca benggala yang memberikan pelajaran berharga bagi dirinya, menatap kehidupan di masa depan.

Pada diri pakdenya, Pak Jokowi belajar tuntas bisnis perkayuan, tetapi lebih dari itu, ia belajar dan memotret imajinasi kehidupannya dari seorang Pakde Miyono. Pada saat Pak Jokowi jatuh-bangun membesarkan bisnisnya, Pakde Miyono pulalah yang banyak menolong dan membesarkan hatinya. Pak Jokowi seperti selalu punya jalan keluar berkat keberadaan Sang Pakde.

Bisnis Pakde Miyono yang sukses, di mata Pak Jokowi, tidak terlepas dari kerja kerasnya mengelola usaha. Jaringan usaha Pakde Miyono, tidak mungkin ada tanpa kepercayaan dari mitra-mitra usahanya. Berawal dari kerja keras dan kepercayaan dari orang lain itulah yang terekam kuat dalam benak Jokowi muda, yang kemudian membentuknya dengan sikap yang sama. Lebih dari itu, karakter Pakde Miyono yang _andhap asor_ dan selalu _nguwongke_ orang lain, juga menjadi pelajaran yang kemudian membentuk karakter Pak Jokowi hari ini.

Pak Jokowi, yang saya tahu, di kemudian hari menyerap banyak ilmu kehidupan ketimbang ilmu perkayuannya sendiri dari Pakde Miyono. Dalam berbisnis misalnya, Pak Jokowi mendapat ilmu dari Pakde Miyono untuk menjadikan partner atau mitra itu seperti halnya keluarga. Membangun bisnis yang berhasil, tak beda dengan membangun hubungan keluarga yang baik. Optimis menghadapi tantangan, tegar menghadapi masalah, adalah petuah yang menuntun langkah Pak Jokowi.

_Kewelasasihan_ yang terpancar dari sosok Pakde Miyono menjadi jembatan penghubung antara kehidupan bantaran Kali Anyar dan cita-cita untuk mengayomi orang lain. Sewaktu Jokowi kecil, ia melihat banyak orang susah tinggal di bantaran Kali Anyar. Pakde Miyono memberikan contoh, sebelum menolong yang lain, diri sendiri harus kuat lebih dulu.

Inilah yang kemudian membuat Pak Jokowi maju sebagai walikota Solo, padahal sebelumnya beliau enggan terjun ke dunia politik. Pakde Miyono memberikan dorongan untuk bergerak menembus batasan dan mau memikirkan nasib orang lain. Karena kesuksesan sejati adalah kesuksesan bersama yang lain. Bukan hanya diam di zona nyaman. Pakde Miyono telah memberikan dasar pijakan bagi seorang Jokowi untuk mentransformasikan kesuksesan bisnis itu ke dalam pemerintahan. Menganggap rakyat sebagai konsumen yang harus dinomorsatukan. Pemimpin harus melayani dan bekerja sebaik-baiknya untuk masyarakat luas.

Bahkan ketika Pak Jokowi telah menjabat presiden, nasihat beliaulah yang membuat Pak Jokowi tegar menghadapi dinamika politik yang sangat berat di awal-awal kepemimpinannya. Pak Jokowi diingatkan pada nama baik keluarga, ajaran-ajaran yang telah ia terima sewaktu muda untuk tegar menghadapi dinamika hidup. Jika memang langkahnya benar dan demi kepentingan rakyat, maka itu harus dilakukan. Nasihat-nasihat itu terus beliau ugemi, sehingga Pak Jokowi sukses memimpin sampai hari ini.

Kalau kita memotret dan mengamati cara Pak Jokowi bekerja hari ini sebagai pemimpin negara dan presiden, langkah-langkah yang diambil Pak Jokowi, dalam banyak hal ditentukan oleh karakter yang dibentuk sejak masih muda itu. Dan karakter itu salah satunya dibentuk berkat didikan dan hasil pengamatan setiap hari pada sosok seorang guru kehidupan bernama Pakde Miyono.

Kepergian sosok yang telah memberi warna yang sangat kuat bagi kehidupan Pak Jokowi itu tentu menjadi pengingat, menjadi cambuk, menjadi penyemangat, untuk melaksanakan janji-janjinya. Janji terhadap dirinya sendiri, janji terhadap keluarganya, dan terlebih-lebih, janji kepada bangsanya.

_Sugeng kondur,_ Pakde Miyono. Terima kasih atas benih baik yang telah tersemai, yang terpancar dan terasakan oleh lebih banyak orang. _Mugi panjenengan sumare ing kalanggengan jati._

(###)